Fuzzy dalam bahasa inggris memiliki arti kabur atau tidak jelas, sehingga logika fuzzy adalah logika yang kabur, atau mengandung unsur ketidakpastian. Logika fuzzy berbeda dari logika biasa atau logika tegas yang hanya mengenal dua nilai seperti salah atau benar, 0 atau 1. Sedangkan logika fuzzy mengenal nilai diantara benar dan salah. Kebenaran dalam logika fuzzy dinyatakan dalam derajat kebenaran yang nilainya antara 0 hingga 1. Secara
umum, proses perancangan pengendali logika fuzzy
dinyatakan dalam bentuk skema di bawah ini .
Adapun kelebihan dari logika fuzzy
sebagai berikut :
1. Berasal dari konsep
matematis yang sederhana, sehingga konsep logika fuzzy mudah dipahami.
2. Memiliki toleransi terhadap data-data yang tidak tepat.
3. Logika fuzzy dapat memodelkan fungsi nonliniear yang
kompleks.
4. Logika
fuzzy dapat membangun dan
mengaplikasikan pengalaman-pengalaman para pakar secara langsung tanpa harus
melalui proses pelatihan.
5. Logika
fuzzy dapat dikombinasikan dengan
teknik-teknik kendali secara konvensional.
6. Logika
fuzzy memiliki daya guna yang lebih
baik di berbagai aspek, tidak hanya khusus untuk kendali mesin namun dapat
digunakan juga untuk dalam sistem mengambil keputusan.
Terdapat 3 tahapan utama dalam proses Fuzzy Logic yaitu :
1) Fuzzification
Fuzzification merupakan proses pemetaan variable input yang merupakan nilai tegas ke
dalam fungsi keanggotaan fuzzy yang kemudian diolah di dalam mesin penalaran. Fungsi
keanggotaan merupakan suatu kurva yang menunjukkan pemetaan titik input data ke dalam
derajat keanggotaan yang memiliki nilai interval antara 0 sampai 1. Cara untuk mendapatkan
nilai keanggotaan yaitu dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungsi matematika.
fungsi yang umum nya digunakan antara lain fungsi linier naik, fungsi linier turun, fungsi
representasi kurva segitiga, representasi kurva trapesium, representasi kurva tipe
S, representasi tipe Phi, dan representasi kurva Gaussian.
2) Rule Base ( Rule Evaluation)
Rule evaluation berfungsi untuk memetakan fuzzy input menjadi fuzzy output atau membuat
aturan-aturan yang akan terjadi yang dialami oleh fuzzy input. Pemetaan ini didasarkan pada
sejumlah fuzzy If – Then rules. If –Then rules terdiri dari dua bagian utama, yaitu :
Rule evaluation berfungsi untuk memetakan fuzzy input menjadi fuzzy output atau membuat
aturan-aturan yang akan terjadi yang dialami oleh fuzzy input. Pemetaan ini didasarkan pada
sejumlah fuzzy If – Then rules. If –Then rules terdiri dari dua bagian utama, yaitu :
- The antecedent part (premise) yaitu kata di antara if dan then yang merupakan input fuzzy.
- The consequent part (conclusion) yaitu kata setelah then yang merupakan output fuzzy.
Dengan demikian If then rules pada proses Fuzzy Logic dapat dituliskan dengan IF sebagai
Antecedent dan THEN sebagai Consequent. Jika Sistem Fuzzy Logic dirancang dengan
menggunakan lebih dari satu input, maka Antecedent dapat menggunakan operator And atau
Or.
3) Defuzzifikasi :
Suatu
sistem fuzzy akan mengeluarkan output berupa himpunan fuzzy (fuzzy output). Untuk
dapat berinteraksi
dengan sistem di luar, maka perlu mengubahnya menjadi suatu data crisp
(tegas). Dengan proses defuzzifikasi, himpunan fuzzy hasil inferensi akan diubah
menjadi
suatu data crisp tunggal.
Data crisp tunggal inilah yang
merupakan sinyal kontrol. Ada
beberapa metode defuzzifikasi, antara lain :
- Metode Max : Metode yang digunakan untuk mencari nilai puncak untuk output yang dibatasi oleh fungsi :
- Metode titik tengah (centre of area): Metode Defuzzifikasi yang paling umum digunakan adalah metode pusat area. Metode ini dideskripsikan dengan fungsi
- Metode rata-rata (average) : Metode yang digunakan jika fuzzy dalam bentuk simetris.
- Metode penjumlah titik tengah (summing of centre area) : Metode ini dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut :
- Metode titik tengah area terbesar : Pada metode ini output yang dipilih berdasarkan titik pusat area terbesar yang terdapat pada fungsi keanggotaan. Metode ini dinyatakan dalam fungsi :

Comments
Post a Comment